RENCANA INTERVENSI PEKERJA SOSIAL DENGAN KELOMPOK
Pekerjaan Sosial merupakan suatu profesi pertolongan ditujukan pada individu & keluarga, kelompok, dan masyarakat untuk mengembalikan keberfungsian sosialnya.
Metode intervensi yang dapat digunakan pekerja sosial yaitu case work (intervensi dengan individu dan keluarga), group work (intervensi dengan kelompok), dan COCD Community Organitation Community Development (intervensi dengan organisasi masyarakat). Kali ini yang akan saya bahas tentang rencana intervensi dengan kelompok.
Latar Belakang Permasalahan
Panti Asuhan Budi Lestari sebagai salah satu panti swasta di Malang, yang tercatat memiliki 11 anak asuh dengan kisaran usia 7 – 13 tahun. Panti asuhan menerima anak-anak yang tidak memiliki keluarga atau keluarga tidak mampu mengasuhnya. Panti ini dikelola oleh seorang ibu asuh dan seorang tetangga yang membantu. Ketika ibu asuh mengangkat seorang anak, terlebih dahulu mencari informasi terkait orang tua / keluarga dari anak tersebut. Dari 11 anak, ada satu anak kelas 2 SD, ada 2 anak kelas 3 SD, ada 4 anak kelas 5 SD, lalu 3 anak kelas 6 SD, serta seorang anak kelas 1 SMP.
Prestasi belajar anak-anak cukup baik, namun di lain hal ketika kegiatan bersih-bersih panti atau kegiatan rohani ada beberapa anak yang tidak mau mengikuti kegiatan, alasannya banyak tugas sekolah, merasa bosan, dan ada pula yang berpura-pura sakit. Ibu asuh yang mengetahui hal tersebut juga kesulitan dalam membujuk dan menasehati mereka. Maka dari itu Ibu asuh meminta bantuan kepada pekerja sosial untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut.
Rumusan Masalah
1. Keenggan anak-anak dalam mengikuti kegiatan panti
2. Kurangn koordinasi dan pengaturan di panti
3. Kebosan anak dengan kegiatan di panti
Tipe Kelompok
Recreation and Skill Building Group
Penyusunan Rencana Intervensi
A. Tahap Persiapan
1. Menetapkan Tujuan Kelompok
Tujuan kelompok biasanya dinyatakan sebagai tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh kelompok untuk membantu anggota-anggotanya. Untuk menetapkan tujuan harus dilakukan asesmen kebutuhan. Dari kasus diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan pembuatan kelompok yaitu untuk mengubah pola pikir dan perilaku anak-anak, dengan mengadakan kegiatan rekreasi sekaligus membangun karakter yang baik.
2. Menyusun Komposisi Kelompok
Memperhatikan usia, jenis kelamin, ras etnis atau suku, jenis masalah yang sedang dialami, kemampuan komunikasi verbal, tingkat minat dalam kelompok. Dalam hal ini kelompok telah terdiri dari 11 anak panti asuhan Budi Lestari. Jenis permasalahan yang dialami yaitu kejenuhan / kebosanan anak dan peraturan kedisiplinan yang kurang baik dari pihak panti.
3. Mempersiapkan Anggota Kelompok
Memberikan informasi yang lengkap tentang semua kegiatan yang akan dilakukan dan memberikan penjelasan tentang apa saja yang harus dilakukan oleh setiap anggota.
Permasalah yang dihadapi berkaitan dengan anak, maka dari itu penyampaian informasi kegiatan menjadi sangat penting, juga perlu penyampaian sederhana agar anak mudah memahami.
4. Mempersiapkan Setting Fisik Dan Sosial
Mempersiapkan seperti ruangan untuk pertemuan kelompok, ruangan Penerimaan, ruangan tamu, susunan kursi, dan objek material lainnya, misalnya papan tulis putih, spidol, alat-alat permainan, peralatan relaksasi, perlengkapan olah raga, dll.
Kegiatan yang dilakukan dalam tipe kelompok ini lebih kepada kegiatan luar ruangan. Maka dari itu setting yang diperlukan lebih simpel, misalnya untuk kegiatan olahraga kasti memerlukan peralatan kasti dan lapangan yang cukup luas.
Teknik dalam tahap persiapan
• Membentuk kelompok. Memandu anak-anak untuk membagi dalam 2 regu untuk bermain kasti.
• Mempersiapkan pemimpin kelompok. Memilih ketua dalam kegiatan rekreasi ini, dan memilih ketua regu dalam permainan kasti. Untuk melatih kepemimpinan anak.
• Merekrut anggota kelompok. Memilih kawan bermain dalam 1 regu, jumlah anggota tiap regu sama.
• Seleksi anggota kelompok. Bagi tiap regu harus memiliki anggota yang dapat berlari, menghindar, dan melempar.
• Melakukan sesi permulaan. Memulai permainan dengan ketentuan yang telah di jelaskan oleh pemandu / wasit.
• Mempersiapkan orangtua anggota yang belum dewasa. Dalam rekreasi dan permainan kasti ini harus selalu didampingi oleh ibu asuh, pekerja sosial dan seorang pemandu kegiatan.
• Merumuskan tujuan kelompok. Membuat tujuan setiap regu yaitu bisa memenangkan permainan, dan tujuan dari rekreasi untuk mengenal lingkungan, melatih kedisiplinan dan melatih kekompakan anak-anak.
• Mempersiapkan anggota kelompok agar memperoleh banyak hal dari kelompok. Tiap anak dapat mengambil manfaat dan pelajaran dari kegiatan yang dilakukan.
B. Tahap Memulai Kelompok
1. Membangun kepercayaan dapat dilakukan dengan membicarakan, merumuskan dan menetapkan norma-norma atau aturan-aturan main selama mengikuti kegiatan di dalam kelompok.
Biasanya anak yang selalu ingin tahu akan bertanya-tanya kegiatan apa yang mau dilakukan, bagaimana cara melakukannya dan apa yang dia dapatkan setelah melakukan kegiatan ini. Maka harus membuat kegiatan ini semenarik mungkin dan bermanfaat untuk anak-anak. Dengan permainan kasti dapat melatih kepemimpinan, kekompakan, melatih konsentrasi dan melatih kebugaran anak-anak dengan menyenangkan.
2. Pemimpin kelompok perlu membangun relasi, karena relasi yang baik akan efektif dalam membangun kepercayaan. Sikap-sikap Empathy, positive regard, nonjudgemental, personal warmth dan genuineness adalah modal dasar untuk dapat membangun relasi.
Dalam kegiatan rekreasi ini ketua harus bisa memberikan arahan dan membantu menjelaskan pada teman yang belum mengerti, dengan sikap peduli, sabar, tidak membedakan teman dan selalu ramah pada semua teman.
3. Pekerja sosial kelompok juga perlu melakukan fasilitasi utk mengembangkan relasi di antara anggota-anggota kelompok. Misalnya dengan mengupayakan agar di antara anggota saling berbicara, saling mendengarkan, dan mereduksi distorsi yang diakibatkan oleh komunikasi yang kontra produktif.
Dalam hal ini pekerja sosial selalu menjaga hubungan setiap anak tetap baik, dan saling membantu satu sama lain. Juga perlu mendengar keluhan atau pendapat anak-anak tentang bagaimana kegiatan tersebut dan permainan yang dilakukan apakah menyenangkan baginya.
4. Tugas selanjutnya yang harus dilakukan adalah membangun struktur di dalam kelompok : komunikasi, kekuasaan, sosial, kepemimpinan, peranan.
Penetapan ketua dalam kegiatan rekreasi dan dalam permainan ini akan membangun kepercayaan diri anak dalam berkomunikasi, memiliki kekuasaan, berusaha menjadi pemimpin yang baik, dan mengerti bagaimana peran pemimpin dan anggota.
Teknik-Teknik dalam Tahap Memulai :
A. Teknik perkenalan
Perkenalan yang dilakukan oleh anak panti yang telah tinggal bersama, lebih pada mengenal kemampuan menjadi ketua, mengenal kebiasaan yang dilakukan ketika bertanding / bermain dan sebagainya.
B. Teknik memfokuskan anggota kelompok
Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa setiap anak perlu diarahkan pada tujuan yang sama, dan memahami bagaimana kegiatan yang akan dilakukan, serta memahami tugas nya dalam grup / kelompok tersebut. Misalnya ketua regu mengetahui tugasnya untuk mengarahkan pemain regunya untuk menyerang atau bertahan.
C. Teknik membangun kepercayaan
Anak-anak yang mengikuti kegiatan rekreasi harus percaya pada pemandu dan ketua mereka, dalam permainan kasti pun mengajarkan agar kawan satu regu saling percaya sehingga dapat berkomunikasi dengan baik. Misalnya untuk regu bertahan memiliki isyarat-isyarat yang hanya diketahui regunya tentang kapan harus berlari, menghindar, dan bertahan.
D. Teknik menghadapi penolakan awal
Sering kali anak-anak tidak mau mengikuti arahan dari pemandu ataupun ketua nya sendiri, karena menganggap dirinya tidak mampu atau tidak sesuai dengan keinginannya. Maka pekerja sosial meyakinkan dan membantu anggota untuk mengikuti kegiatan maupun permainan tersebut.
E. Teknik memulai sesi
Ketika memulai permainan kasti anak-anak di beri kesempatan untuk menentukan sendiri pembagian grup dan juga penentuan siapa regu penyerang atau regu bertahan.
F. Teknik mengakhiri sesi
Pemilihan pemain dan regu penyerang telah dilakukan, maka jalannya permainan dapat diambil alih oleh wasit.
C. Tahap Transisi
1. Sebelum kelompok menghasilkan pekerjaan yang produktif dan ekstensif, biasanya melampaui fase transisi yang sulit.
Dalam tahap ini anak-anak yang mengikuti kegiatan akan merasa jenuh dan merasa kurang sesuai dengan keinginan nya, bimbang untuk melanjutkan kegiatan atau berhenti.
2. Pada tahap transisi ini, anggota-anggota kelompok memiliki tugas untuk belajar mengenal, menerima dan mengatasi kecemasan, penolakan, dan konflik.
Anak-anak dalam regu belajar untuk merangkul / menjaga anggota regu nya agar tidak berhenti bermain karena merasa tidak bisa bermain.
Anggota-anggota kelompok harus :
- Memutuskan apakah mereka akan menginvestasikan diri mereka sepenuhnya dalam pengalaman berkelompok
- Menyadari adanya beberapa perasaan yang sebelumnya hanya dirasakan samar-samar
- Menguji pemimpin kelompok dan anggota kelompok lainnya untuk menentukan tingkat keamanan kelompok
- Mengamati perilaku pemimpin kelompok untuk menentukan kesesuaian antara yg diucapkan pemimpin kelompok dengan perbuatannya
- Merasa ambivalen terhadap apa yg diinginkannya dari kelompok
- Menjadi lebih dapat menyesuaikan diri terhadap konflik yang mungkin terjadi di dalam kelompok
- Mempelajari pentingnya mengatakan apa yang dirasakan dan dipikirkan tentang Kelompok
Teknik dalam Tahap Transisi
• Teknik menghadapi anggota kelompok yang sulit
Bagi anak-anak yang berusia lebih kecil biasanya sedikit sulit untuk dibujuk, namun jika dia bisa tertarik kembali dengan permainan tersebut atau telah beristirahat sejenak, maka dia mau bermain kembali.
• Teknik menghadapi konflik
Ketika terjadi pertengkaran antar anak atau saling menyalahkan ketika tidak berhasil melewati rintangan. Maka perlu segera dilakukan peleraian dan saling memaafkan dan memahami satu sama lain.
D. Tahap Bekerja
Tahap ini memiliki karakteristik sebagai berikut :
1. Peserta biasanya bersemangat untuk memulai pekerjaan atau membawa tema-tema untuk dieksplorasi, meskipun tidak selalu, karena ada juga peserta yang masih kebingungan.
Pada permainan kasti anak-anak akan bersemangat untuk bermain karena lebih paham cara bermain dan mempunyai strategi baru untuk menyerang lawan.
2. Fokus pada “di sini dan sekarang”.
Pemain bertahan dapat lebih cermat dan fokus dalam permainan, tidak memikirkan hal lain diluar permainan, dan fokus untuk memenangkan permainan.
3. Anggota kelompok juga berkeinginan untuk berinteraksi secara langsung dan bermakna satu sama lain, termasuk konfrontasi.
Setiap anak terdorong untuk saling membantu, ketika teman sedang tidak berlari karena lelah, maka anak yang lain dapat berlari terlebih dahulu.
4. Anggota kelompok lebih siap untuk mengidentifikasi tujuan-tujuan, keinginan dan kepentingan mereka, serta mereka telah belajar bertanggungjawab untuk mengatasinya.
Pemain dapat menentukan apa yang mereka inginkan dan lakukan ketika bertahan, jika sedang kelelahan dapat memutuskan kapan dia dapat berlari dan kapan harus bertahan.
5. Anggota-anggota kelompok lebih banyak berhubungan dengan diri mereka sendiri.
Anak-anak lebih percaya diri dan berani mengambil resiko, ketika seorang pemain bertahan setelah memukul bola langsung berlari hingga kembali ke area pemukul dengan berhasil menghindar dari penyerang, maka ia akan merasa bangga juga memotivasi teman-temannya.
6. Pertukaran antar anggota kelompok pada tahap ini memiliki ciri saling memberi dan menerima umpan balik yang jujur, langsung, bersifat melayani, dan bermanfaat.
Ketika pemain penyerang dapat melempar mengenai lawan maka dapat mengantarkan regunya menjadi regu bertahan dan mendapat poin.
7. Tahap ini juga dapat meningkatkan kohesivitas kelompok
Dengan melihat kemampuan teman-teman regunya akan menumbuhkan rasa percaya dan lebih kompak untuk memenangkan permainan.
Teknik-teknik dalam Tahap Bekerja :
• Penanganan munculnya tema-tema.
Jika ada seorang anak yang mengatakan bahwa dia tidak tahu apa yang diinginkan dalam kegiatan rekreasi, maka dapat kita bujuk agar ia mengungkapkan alasannya tidak secara langsung, tapi melalui teman yang dia percaya.
• Penanganan munculnya emosi intensif dari semua anggota secara simultan
Jika dalam permainan kasti terjadi pelanggaran dari salah satu regu dan mengakibatkan pertengkaran sebagian besar anggota regu, maka harus segera mengalihkan perhatian kembali pada permainan, dan memberikan keputusan netral seperti menganulir poin.
• Penanganan mimpi
Jika ada seorang anak yang berimajinasi bahwa pohon besar di tempat rekreasi itu menakutkan, maka dapat kita berikan kesempatan untuk menceritakan dan mengajak anak-anak lain melalui dongeng bahwa pohon tersebut tidak menyeramkan seperti yang dibayangkan.
• Penanganan masalah kesadaran diri dengan projeksi
Jika seorang anak ketakutan melihat badut karena dulu pernah ditakut-takuti bahwa badut penculik anak-anak. Maka kita dapat melakukan peragaan beberapa temannya bergaya seperti badut dan membuat hiburan untuk anak itu, sampai dia tidak takut badut lagi.
E. Tahap Pengakhiran
Tahap pengakhiran sangat penting karena tahap ini banyak menentukan dampaknya di masa depan. Pengakhiran dalam pekerjaan sosial disebut juga dengan istilah terminasi.
Jika proses pengakhiran atau proses terminasi berhasil, maka anggota kelompok akan lebih memungkinkan untuk mengalihkan pelajaran yg diperoleh dari kelompok pada situasi kehidupan yang lain, untuk masuk ke dalam pengalaman kelompok yang lain bila diperlukan, dan untuk mengingat kelompok dengan perasaan-perasaan yang positif.
Tugas Pekerja Sosial
1. Pekerja sosial harus bisa menjelaskan pada anak-anak, permainan kasti sudah selesai begitu pula ketika rekreasi telah selesai.
2. Pekerja sosial memberi akses jika anak-anak ingin mengadaka rekreasi lagi dilain waktu, dan mengajarkan membuat peralatan kasti sederhana menggunakan kertas kalau anak-anak ingin bermain kasti sendiri.
3. Mengarahkan agar anak-anak bisa mengatasi kebosanan dengan melakukan kegiatan dengan senang, bersama-sama saling membantu dan mengadakan jadwal bermain bersama.
4. Bersama ibu asuh mengarahkan cara-cara mengatasi permasalahan-permasalahan di esok hari yang bisa diselesaikan sendiri.
Teknik dalam tahap pengakhiran
Teknik Mengakhiri Sesi
• Meminta anak-anak mengatakan perasaannya setelah bermain dan mengikuti kegiatan.
• Memberikan tugas pada anak-anak untuk mencari permainan lain yang bisa dilakukan bersama didalam lingkungan panti.
• Memberikan komentar dan ucapan selamat pada anak-anak yang telah berhasil mengikuti kegiatan hingga selesai.
Teknik Melakukan Terminasi
• Mempersiapkan anggota kelompok untuk terminasi.
• Membahas ulang pengalaman bermain dan rekreasi.
• Mengekspresikan pengalaman kurang menyenangkan dalam kelompok.
• Membahas isu-isu perpisahan, agar anak-anak menerima berakhirnya kegiatan.
• Melatih peran-peran baru anak sebagai ketua atau pemimpin kelompok.
• Membicarakan hasil kegiatan dari anak itu sendiri, dan rencana di hari esok untuk mengatasi jika terjadi kebosanan lagi.
• Melakukan proyeksi untuk masa depan anak-anak di panti.
• Membahas reaksi secara pribadi pekerja sosial terhadap masing-masing regu dalam permainan kasti dan pada semua anak ketiga kegiatan rekreasi.
• Membuat kontrak untuk tindakan selanjutnya, jika anak-anak membutuhkan pekerja sosial atau memiliki pertanyaan pada pekerja sosial, maka dapat melakukan tindak lanjut.
• Belajar untuk tidak melupakan, mengingatkan kembali anak-anak dengan pengalaman kegiatan ini agar berkesan dan tidak lupa dikemudian hari.
Referensi
Garvin, Charles. (1987). Contemporary Group Work. Prentice Hall Inc. Englewood Cliffs NJ.
Zastrow, Charles. 2008. Edisi 7. Social Work With Groups: A Comprehensive Workbook. Boston : Cengage Learnening
Komentar
Posting Komentar